?

Log in

Tired. Tired... TIRED!!!

[yeay]
sialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsiasialsialsialsialialsialokimcrazy

Shortcake (4/5) [Multichapter]

[“Arigatou gozaimasu, Yuki-chan… I want to say this since 3 years ago when you hugged me tightly. Aishiteru yo…”]
ONE WEEK LATER

Aku mengambil tasku, memasukkan beberapa barang yang penting, dan pergi keluar. Dua karcis telah berada di genggamanku. Satu untuk kereta, dan satu lagi….. sebuah tiket konser. AKB48. Aku tidak percaya saat aku menemukan berita ke enam itu. Di judulnya tertera “AKB48 WORLD TOUR” dan nama Italia ada di daftar itu. Dan saat itu juga aku langsung menelpon teman-temanku dan mengajaknya. Lalu aku memesan tiketnya bersama mereka.

Dan di sini lah aku berada. Di sebuah gerbong kereta dengan teman-temanku. Mereka dengan hypernya membicarakan oshi mereka masing-masing. Tapi aku diam sendiri. Aku tidak bisa menghilangkan wajah Yuki dari otakku.

Perasaanku saat ini campur aduk. Senang, haru, sedih, hyper, dan… rindu. Aku merindukannya. Kalo versi gaul alaynya, bisa dibilang “kangen akut 3 tahun” emang lebay, tapi beneran. *ini efek author sering ngalay di twitter* *plak*


Akhirnya aku sudah berada di tujuan. Aku dan teman-temanku berjalan ke theater, tempat yang akan dipakai oleh Yuki dan kawan-kawannya. Setelah sampai, ternyata orang-orang yang menunggu lebih banyak daripada yang kukira. Well, karena aku belum pernah ke konser, jadi aku tidak tahu berapa banyak yang akan menonton. Aku sih tidak mempedulikannya. Aku hanya mempedulikan bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Yuki.

Setengah jam lebih aku menunggu antrian. Cukup melelahkan. Tapi demi Yuki aku berani melakukan apa pun.

Lima belas menit aku menunggu di dalam setelah aku memberi mbak-mbak loket tiketku. Orang-orang di sekitarku berbusana lengkap. T-shirt bertuliskan AKB48, ditambah dengan tiga lightstick sekaligus di genggamannya. Sedangkan aku? Aku saja memakai baju biru polos. Di tasku cuma ada botol minuman, handphoneku, dan sebuah benda. Ah, tapi biarlah. Aku hanya mempedulikan Yuki, bukan yang lainnya. Ah, sudah berapa kali aku bilang ini, ya?

Akhirnya konser pun dimulai. Di atas panggung itu ada Yuki… dia memakai baju yang sama dengan yang lainnya. Suaranya.. kereeeen. Dan dia lebih cantik daripada 3 tahun yang lalu dan juga di video “Shortcake” itu.

Selama 3 jam-an, akhirnya konser itu selesai. Di akhir acara, mereka menyempatkan untuk berdadah-dadah ria dengan fansnya. Yuki ada di paling belakang. Dia melambaikan tangannya ke segala penjuru. Aku meneriakkan namanya. Tapi suaraku kalah dengan orang-orang di sampingku. Terpaksa aku hanya melambaikan tanganku dan berharap Yuki melihatku di sini.

Akhirnya mereka selesai. Yuki dan member lainnya masuk ke pintu besar di belakangnya. Aku memaksa tubuhku ini menyerobot dari barisan ke-3 ke barisan pertama di antara kerumunan sesak ini. Aku cuma ingin Yuki tahu aku ada di sini..

“Yuki!” aku sampai di barisan pertama dan langsung meneriaki namanya sebelum dia memasuki pintu besar itu. Tapi dia tidak mendengarku. “Yuki-chan!” aku menambahkan volume suaraku. Tapi dia tetap menatap pintu besar itu. “YUKI-CHAAAAN!!!” akhirnya aku mengeluarkan sisa tenagaku dan hasilnya… nihil. Dia tetap membelakangiku.

Yuki-chan… why did you do this to me? I’ve given all my efforts to you. But you just seeing that damn big door. Doshite…?

Aku menunduk, mengelap peluh yang menetes di pipiku, mengambil botol minuman dari tasku, dan meminumnya. Orang-orang di sekitarku mulai sedikit lebih diam. Mereka meletakkan lightstick dan uchiwa mereka masing-masing ke dalam tasnya. Aku tetap menunduk. Menunggu sebuah keajaiban datang menghampiriku di keadaanku yang sempit ini. Tapi ini mungkin sudah terlanjur. Aku lebih baik meninggalkan theater ini.

“Tes…” tiba-tiba orang-orang di sekelilingku mulai bergemuruh lagi. Mereka kenapa? Lalu aku terdiam, tetap membelakangi panggung, dan mendengar orang di sebelahku bilang kalau ada seorang dari member keluar dan membawa mic. Member itu sendirian. Tapi aku tidak tahu siapa member itu. Aku tidak bisa mendengar orang di sebelahku lagi. Karena aku sudah berada hampir di ujung kerumunan. Kuyakin itu bukan Yuki.

Aku hampir membuka pintu keluar dan menghentikan langkahku saat aku mendengar member itu membuka suaranya. Ko-konbanwa.. Yukirin desu.” Aku segera menolehkan kepalaku dan menatap ke asal suara itu. Yuki… kau…

“Aku mengucapkan terima kasih untuk semuanya yang telah menikmati world tour kami yang pertama ini. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf untuk salah satu sahabatku yang ada di sini. Aku tidak tahu apa dia di sini atau tidak. Aku sempat mendengar suaranya, tapi kufikir mungkin bukan dia. Ya.. hanya itu yang kusampaikan. Arigatou gozaimasu.” Ucap Yuki dengan bahasa Jepangnya yang kufikir hanya aku yang mengerti perkataannya. Lalu Yuki melesat ke dalam pintu itu lagi dan konser pun selesai.

Yuki… do you feel what I feel now? I feel like heaven. And you’re the angel who has passed away for a long time and suddenly you breath. And your breath makes me breathless, but still conscious because you’re here.. and you notice me…

Aku segera berlari ke luar sesaat setelah Yuki kembali ke backstage. Aku menaiki kereta, memasuki gerbong 2, dan duduk dengan ekspresi wajahku yang tidak terkontrol. Aku tidak tahu apa aku senang apa justru sedih. Perasaan yang membingungkan.
Aku membuka ranselku dan menggenggam kotak pink yang sebenarnya kutujukan untuk Yuki. Tapi karena tadi kurang luck, jadi mungkin ini akan menjadi pajangan di kamarku lebih lama lagi.

Tangan kiriku menggenggam kotak kecil itu sedangkan tangan kananku sibuk mengetik sms untuk sebuah temanku yang sangat berharga di hari spesial ini.

Arigatou gozaimasu, Yuki-chan… I want to say this since 3 years ago when you hugged me tightly. Aishiteru yo…

TBC

HAPPY INDEPENDENCE DAY, INDONESIA! 68<3

Inilah unek-unek saya selama ini. Selamat membaca.
MERDEKA!!!Collapse )

Shortcake (3/5) [Multichapter]

Ah.. late post. gomen ne-.-v oh well, SELAMAT HUT RI YANG KE-68! MERDEKA! Happy independence day, my lovely country, Indonesia<3 Hope be better soon. No corrupt. And I hope everybody try do your best for this old country (?) Keep smiling! Keep studying! No "LAZY" anymore. Don't fighting with friend, another school, or even with the government. Please, i'm tryin' to do everything by myself now. Senior high is tougher than junior high... But hey! Shortcake still on going, guys! *eventough I know there's no one read this ff or even my LJ* *sigh*

[NOW]
NOW

Sekarang, inilah aku. Berada di sebuah kereta dengan penumpang yang sangat banyak. Tapi aku sudah biasa sekarang untuk berdesak-desakkan dengan mereka. Mereka pun sepertinya juga sama. Ini adalah rutinitas keseharianku setiap pulang dari sekolah. Tidak lagi menaiki sepeda tua itu lagi –yang nyatanya sekarang sudah dijual oleh ayahku—dan bersusah payah menanjak untuk sampai ke rumahku. Sekarang lebih praktis dan simpel, tapi lebih menyakitkan karena aku tidak bisa menatap wajah manisnya itu lagi.

Aku berulang kali mengirim SMS ke Yuki. Tapi dia tak pernah membalasnya. Bahkan dari saat aku pertama kali mengirimnya SMS. Kufikir dia memberiku nomornya yang palsu, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Ah, sebaiknya aku melupakannya. Tapi bagaimana? Bahkan setiap kali aku melakukan apa, wajahnya pasti terlintas di benakku. Kenapa?

Aku pun menuruni kereta penuh sesak itu dan berjalan menuju rumahku. Jalan ini sepi. Pemandangan langit sama persis saat aku pertama kali melihat wajah sedihnya itu. Hah… peristiwa 5 tahun lalu…

Di saat aku mengulang kembali peristiwa itu di otakku, aku merasa seperti melihat seorang Yuki sedang berjalan di depanku. Aku pun menggelengkan kepalaku dan memicingkan mataku ke perempuan itu. Jarakku dengannya lumayan jauh. Tapi dari belakang… dia mempunyai rambut hitam kecoklatan yang panjang. Persis seperti Yuki. Apa dia jangan-jangan beneran Yuki dan dia sekarang lagi jalan ke rumahku?

“Yuki-chan!” aku meneriakinya. Tapi dia tidak menengok. “Yuki-chaan!” aku meneriakinya lagi, tapi dia tetap tidak menoleh. Mungkin suaraku tidak terdengar sampai sana. Aku pun berlari ke arahnya dengan perasaan campur aduk, seperti senang, haru, sedih, dan juga… kangen. Yea, I miss her so much.

Aku pun menepuk pundak perempuan itu. Akhirnya dia menoleh ke arahku. Hatiku sudah seperti mau meledak. Saat-saat dia menoleh ke arahku seperti slow motion! Tapi ternyata ledakan itu sudah ditemukan oleh polisi lebih dahulu. Uhm, maksudku, hatiku tidak jadi meledak. Dan itu berarti… perempuan itu bukan Yuki.

“Umm… kamu siapa?” Tanya perempuan itu bingung. Aku juga tambah bingung.

“Ah… sorry, wrong person.” Aku menggaruk tengkukku dan langsung berlari menuju rumahku. What a shame!

Sesampainya di rumah, aku langsung menyelonjorkan kakiku di teras depan rumahku. Melelahkan. Ternyata lumayan jauh. Aku pun merogoh tasku untuk mengambil handphoneku. Seperti biasa, tidak ada balasan. Lalu aku mengirim Yuki sebuah SMS.
Yuki-chan, aku udah pulang, nih. Gimana sekolahmu? Gak ada yang menyakitimu lagi, kan? J tadi di jalan aku ketemu sama orang yang mirip kamu, loh. Tapi ternyata salah orang! Haha, malu banget. Aku langsung lari, deh ==

Setelah itu aku pergi mandi dan menyantap makan malamku bersama keluargaku.


Aku sedang tiduran di ranjangku. Sudah jam 12 malam, tapi mataku tetap ingin terbuka. Aku memandangi langit-langit kamarku lalu aku menoleh ke arah meja belajarku. Di sana tergeletak sebuah kotak berwarna pink. Aneh bukan, seorang lelaki menyimpan sebuah kotak yang unyu-unyu gitu? Tapi menurutku tidak. Karena itu sebenarnya bukan milikku.

Aku menuruni ranjangku dan menghampiri kotak kecil itu. Aku membukanya lalu mengambil sebuah benda yang ada di dalamnya. Aku menatap benda itu dan membukanya. Ukiran yang indah. Aku langsung segera mengembalikan benda itu ke kotak pink kecil itu. Terlalu sedih untuk dilihat…

Dan aku kembali ke tempat tidurku yang empuk itu. Dan lagi-lagi memikirkan satu hal setiap kali aku melihat benda itu. Akhirnya aku berhasil menemukannya…
@@@


Hari ini hari Jumat. Aku terpaksa tidak masuk. Yah, mau bagaimana lagi? Sekarang tanggal merah. Dan apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak ada kegiatan. Ibu dan Ayah pergi entah kemana. Kakakku masih kuliah di luar kota. Adikku sendiri bermain dengan teman-teman sebayanya. Sedangkan tontonan di televisi lagi tidak ada yang bagus.

Dan aku pun memutuskan untuk bermain komputer. Entah kenapa tiba-tiba terlintas di benakku nama Kashiwagi Yuki. Mungkin aku akan mencoba nama itu di internet. Setelah aku tulis nama itu… ternyata banyak sekali namanya di sini. Dan sekarang dia menamakan dirinya sendiri dengan ‘Yukirin’.

Ah.. nama itu, ya? Aku mengingatnya! Itu dimana aku masih sebulan setelah aku bertemu dengannya. Aku senang memanggil teman-teman dekatku dengan nama panggilan yang kuberikan. Dan aku memanggil Yuki dengan sebutan “Yukirin”, tapi waktu itu dia menolak. Dan… kenapa sekarang malah dipakai?

Aku mencari biodatanya, dan muncullah nama AKB48 di depan mataku. Ah, idol group itu, ya? Aku pernah mendengarnya dari temanku, tapi aku tidak peduli. Kufikir itu cuma group penyanyi sambil ngedance biasa itu, kan?

Aku mengetik nama AKB48 itu di YouTube. Banyak sekali videonya, mana perempuannya cantik-cantik pula. Pantas saja teman-temanku menyukai mereka.

Aku hanya sekedar melihat-lihat foto dari video itu. Hmmm, sampai sejauh ini aku tidak bisa melihat wajah Yuki. Well… terlalu banyak membernya, sih. Jadi susah dicarinya.

Sudah sampai halaman ke-4 tapi aku tetap tidak melihat wajah manisnya itu. Apa mungkin kelewatan? Ah, payah! Kenapa gak tulis namanya aja, ya? Dan kutulis “Kashiwagi Yuki” di situs itu.

Oh… my… god…

Ternyata banyak sekali video tentangnya. Bahkan… ada dia sedang menyanyi solo. Lagu itu berjudul “Shortcake”. Hah? Shortcake? Bukannya itu makanan kesukaannya, ya? Aku juga pernah memberinya cake semacam itu ke Yuki. Aku membuatnya sendiri. Tapi saat Yuki mencoba cake itu… dia langsung melemparnya ke arahku. Dengan kata lain, cake buatan pertamaku gagal. Well, tak apa. Yang penting cake buatanku yang kedua lebih enak dan dia menikmatinya.

Ah.. peristiwa yang takkan pernah kulupakan sampai sekarang. Eh, tapi aku memang tidak pernah melupakan detik-detik bersamanya, sih..

Aku pun mengklik video itu dengan jantungku berdegup tiga kali lipat. Ah~ aku merindukan perasaanku seperti ini. Sudah dari tiga tahun yang lalu aku tidak merasakan ini. Aku menunggu video itu buffering. Aku menengok ke kanan dan ke kiriku, belum ada yang pulang. Baguslah..

Sudah satu menit berlalu tapi videonya belum mulai-mulai juga. Internet di rumahku emang lemot banget gak pake aja. Tapi demi Yuki selama apapun aku menunggu, aku akan selalu menunggumu..

Satu menit satu detik telah berlalu. Saking geregetannya, detiknya aja sampe kuhitung juga. Dan… Akhirnya videonya mulai juga!!! Aku menyimak setiap kata dari mulut perempuan yang kucinta itu. Suaranya….. sangat lembut dan feminine. Dan gerakan-gerakannya… masih seperti dulu. Tapi sedikit berbeda gara-gara disuruh sama managernya kali, ya? Dan dia… tetap cantik seperti biasanya. Oh, bukan. Justru dia semakin cantik.

Yuki-chan, I miss you so much.. Do you miss me, too? Do you remember me? And.. do you love me now?

Setelah menyaksikan video dari Yuki –yang sekarang dinamai yukirin—, aku segera mendownload video dan lagunya. Sambil menunggu didownload, aku iseng membuka berita-berita terbaru dari AKB48.

Dari berita pertama sampai ke lima, tidak ada yang menarik. Tapi setelah aku melihat yang ke enam….. oh my god…..

TBC~

Shortcake 2/5 (Multichapter)

Aaa! Gomeeeeennasaaaaaaii yooo! i'm still busy with my new school (;p) so i don't have much time for posting to this journal...-3-v ja! this is the second part of Shortcake! it's okay if you don't wanna comment my fic, i'm just..... normal (?) saaaa, iku yoo~ sutoori hajimaru!^^

[Umurku sekarang sudah 11 tahun. Aku sudah beranjak ke SMP. Yuki pun sama. Tapi kenyataan pahit harus kuterima….]
3 YEARS AGO

Sehari setelah aku mengetahui namanya, aku pergi ke lapangan itu lagi. Dan Yuki sudah di sana. Dia menungguku. Kita berdua mencari kalung itu. Tapi kalung itu tetap malu untuk mengahadap ke pemiliknya lagi. Dan beberapa hari kemudian, Yuki bilang kalau dia sebaiknya melupakan kalung itu. Dan tetap merahasiakannya dari ibunya. Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku hanya mengangguk menyetujuinya.

Setelah kejadian itu juga, aku mulai sering bermain bersamanya. Hampir setiap sore aku menjemputnya di rumahnya, dan berkeliling di sekitar komplekku dengan sepeda tuaku yang berdecit. Tapi dia tidak mempedulikannya. Dia justru senang.

2 tahun setelah kejadian itu, kami semakin dekat. Aku bertambah umur, dia pun juga. Dan dia juga semakin cantik. Sedangkan aku? Aku bilang sih biasa aja. Tapi kata Yuki, aku juga semakin dewasa dan tampan. Yaa, sebagai lelaki aku senang dipuji. Apalagi dipuji oleh perempuan secantik dia.

Umurku sekarang sudah 11 tahun. Aku sudah beranjak ke SMP. Yuki pun sama. Tapi kenyataan pahit harus kuterima….

Aku harus pindah ke negara asliku, Italia.

Aku tidak bisa mengelak dari perintah Ibu dan Ayahku. Aku ingin secepatnya memberitahukan ini kepada Yuki. Tapi pada saat itu aku belum mengetahui nomor handphonenya, jadi aku langsung melesat ke rumahnya dengan sepeda tua ini.

Sesampai di rumahnya, aku memencet bel. Dan untungnya Yuki yang keluar. Dia mempersilahkanku untuk masuk, tapi aku menolak. Aku pun mengajaknya untuk ke lapangan berbunga itu. Dan dia mengangguk. Dia menaiki sepeda tuaku, dan aku mulai mengayuh menuju ke tempat dimana aku pertama kali melihat wajah manisnya.

Aku dan Yuki pun tiba di lapangan itu. Aku duduk di bawah sebuah pohon Sakura yang sedang berbunga. Kelopak-kelopak itu seperti menari tertiup angin di depan kami berdua. Sangat cantik. Tapi mungkin ini adalah hanami terakhir untukku… bersama dengan Yuki.

“Jadi… kamu mau ngomong apa?” Yuki memecah lamunanku.

Entah kenapa, akhir-akhir ini jantungku bekerja dua kali lipat saat aku berada di dekatnya. Aku tidak kuat dengan kecantikannya. Dan mulai kuakui… aku suka padanya. Aku suka Yuki Kashiwagi. Oh, bukan. Aku cinta Yuki Kashiwagi. Perempuan cantik dengan rambut panjang hitam-kecoklatannya itu… aku cinta kepadanya. Tapi dia belum tahu soal itu. Mungkin aku juga akan bilang ini kepadanya.

“Umm.. awal-awal aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu..” kataku sedikit canggung.

“Apa itu?” tanyanya. Dia mengambil segenggam kelopak bunga sakura di sampingnya dan meniupnya. Dia masih Yuki yang dulu.
“Kamu menganggapku sebagai temanmu, kan?”

Perempuan yang kucintai itu mengangguk dan tersenyum melihat kelopak bunga sakura yang berterbangan di depannya. “Cuma itu saja?”

Aku menggeleng. Kali ini jantungku berdegup lima kali lipat. Aku benar-benar malu untuk mengungkapkan ini. Tapi aku harus melakukannya. Ini kesempatan terakhirku. “Bagaimana perasaanmu kalau… sebenarnya aku menyukaimu?”

Yuki terdiam. Tatapannya datar. Lalu dia menatapku. Dan tiba-tiba… dia tertawa. Itulah tanggapan dari pertanyaan canggungku ini. “Hahahaha! Apa kau bilang? Kau menyukaiku? Hahahaha.”

“A-a-a-aku serius, Yuki-chan..” aku menggaruk tengkukku. Bingung.

“Yaaa perasaanku sih biasa aja~” dia memeletkan lidahnya. Dia tidak percaya kepadaku. Aku pun mengambil segenggam daun pohon Sakura ini dan melemparkannya tepat ke muka Yuki. Tapi tidak mengenainya. “Wee, gak kena, weee~” dia pun berdiri dan berlari menjauhiku. Aku mengejarnya.

Aku terus kejar-kejaran dengannya hingga sang Raja mulai mengantuk di ujung sana. Kita berdua sudah letih. Tapi ini adalah kebiasaan kita berdua, jadi kita juga sudah terbiasa.

Aku menghempaskan tubuhku di bawah pohon Sakura tadi, Yuki pun juga. Aku menatap wajahnya yang sudah letih. Dia menatap matahari di ujung sana. Melihatnya… aku seperti ingin menangis. Mulai besok, aku tak akan bisa menatap wajah lucunya lagi. Tak akan bisa tertawa bersamanya lagi. Tak akan bisa kejar-kejaran seperti tadi di sini.

Aku sudah dua tahun bersamanya setiap kali mega-mega sudah berwarna keunguan. Dimana aku dan dia sudah pulang dari sekolah masing-masing. Aku menjemputnya, dan membawanya berkeliling. Kadang dia suka bercerita kepadaku tentang harinya di sekolahnya. Dimana dia pernah dikhianati oleh sahabatnya, dijahilin, dan lainnya. Tapi dia pernah bilang, dia tidak mau kehilanganku. Karena katanya, aku adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Aku senang dengan kata-katanya. Dan kadang aku juga menceritakan hariku di sekolah.

Selama dua tahun itu juga, aku semakin dekat dengannya. Aku pernah diajak oleh orangtuanya untuk dinner di rumahnya. Dan aku menyetujuinya. Sehari setelah itu, aku juga mengajaknya dinner di rumahku. Dan dia mengangguk dengan cepat. Hari-hari seperti itu adalah sekedar mimpiku saat aku tertidur. Tapi itu dulu sekali. Sekarang impianku terwujud. Dan aku juga tersadar…

Aku juga tidak mau kehilangannya. Dua tahun itu waktu yang cepat.

“Hei!” Yuki menyadarkan dari lamunanku. Lagi. “Jangan bengoooong. Udah sore, nih. Aku mau pulang.”

Aku pun mengangguk. Dan mencoba untuk tersenyum. Tapi sebelum aku mengantarnya, aku meminta nomor handphonenya. Lalu kita bertukar nomor. Kemudian aku mengantar Yuki ke rumahnya. Untuk terakhir kalinya.

Kita pun sampai. Yuki ingin membunyikan bel rumahnya, tapi langsung kucegat. Aku memegang tangan halusnya itu. Yah, bukan yang pertama kali, sih. Tapi entah kenapa kali ini rasanya agak beda.

Aku harus mengatakannya sekarang.

“Yu-Yuki-chan… besok aku…” duh, kenapa susah banget buat ngomong doang, sih?! “Besok… aku… pindah ke Italia. Dan… gak akan ke sini lagi…” dan akhirnya aku mengatakannya juga.

Yuki tercengang. Dia menatapku tidak percaya. “K-kau pasti bercanda…” ucapnya.

Aku menggeleng sambil mengalihkan pandangan murungku ini darinya. Dia menampik tanganku. Tidak terlalu keras, tapi tidak lembut juga. Dia pasti membenciku.

Tapi dugaanku salah. Dia justru memelukku. Pelukannya… sangat hangat. Lebih hangat daripada pelukan ibuku. Dia… dia menangis di balik telingaku, dan mempererat pelukannya. Aku kaget. Aku tidak menduga ini akan terjadi. Aku bingung, apa aku juga harus memeluknya balik? Tapi pikiranku itu langsung kubuang jauh-jauh. Aku pun memeluknya balik. Aku berusaha untuk tidak menangis. Karena suara tangisan Yuki semakin kencang.

Aku tidak mau pelukan ini hanya sebentar. Karena ini adalah… pelukan pertama dan terakhirku dengannya. Tiba-tiba ada seorang pelayan membukakan pintu. Dan Yuki… dia langsung melepas pelukanku dengan paksa, dan berlari ke dalam rumahnya. Pelayan itu tampak bingung. Aku pun menaiki sepedaku dan pergi dari rumah itu secepatnya.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengetik pesan untuk Yuki. Semoga saja dia membalasnya.

“I’m sorry… and thanks for everything.. -Diego”


an: how's it?.-.

Cr: youtube.

Oh goooosh, i would be dying of awesomeness because of Johnny's power! XDD look at tegomass! grrr, you must pay of what you did to my Nino! -3-

Confuse ~_~

Ooooyy, somebody out theeere! Help me please with my LJ! It's confusing for me to change the theme and the image's background with my image... Is anybody know how to change it? Aaaargh, i tried and i tried but it's naught TT^TT

Tags:

Shortcake (One Shot ber part) *lah

Title: Shortcake
Author: naonaotachan
Genre: I don't know anything else but romance-.-
Pairing: Kashiwagi Yuki x OC
Rating: G
Summary: Namaku Diego, aku berasal dari Italia. Tapi tiba-tiba keluargaku pindah ke Jepang, dan aku pun tinggal di sana. Sore itu aku sedang berjalan-jalan menikmati indahnya nuansa Jepang, Dan di sanalah aku bertemu dengannya. Setelah sekian lama mengenalnya, akhirnya berita yang tidak pernah ingin kudengar, akhirnya terdengar. Setelah kejadian itu, aku selalu berjuang untuk bertemu dengannya lagi... Yosh! Fanfic buat sahabat Author yang lagi ultah tanggal 26 Juni kemaren~ hihi :3

[Saat kuusap pipinya dengan saputanganku, aku melihat wajah aslinya. Dia begitu cantik. Walaupun dengan muka sesedih itu, dia tetap cantik...]

5 YEARS AGO

Sore ini, aku mendapati diriku sedang diterpa angin lembut yang semakin lama angin itu membuat poniku jatuh ke belakang. Kalau ditanya sedang apa, aku sedang mengendarai sepeda sekarang. Untuk menghilangkan rasa bosanku seharian di rumah.

Mega-mega ini begitu malu menyapaku. Dia menutupi wajahnya dengan saputangan putih miliknya. Yah, sebut saja itu awan. Tapi mega-mega itu tidak sedang sedih. Sama seperti perasaanku sekarang. Jadi kemungkinan malam ini dia tidak menangis.

Bulan di sebelah kiriku sudah mulai bersiap untuk menggantikan Sang Raja Matahari. Mereka seperti bertegur sapa dan memberi senyuman satu sama lain. Mereka akhirnya merasakan keberadaanku di jalanan sepi ini, yang sedang memerhatikan mereka. Mereka pun memberi senyumannya ke arahku juga.

Tapi entah kenapa, saat aku melintasi sebuah lapangan berbunga, aku mendapat suara tangisan. Tangisan perempuan. Memangnya dia tidak disapa oleh Bulan dan Matahari juga, ya? Dia kenapa memangnya? Sejahat apakah dia dengan Bulan dan Matahari yang sudah memberi senyuman tulus mereka kepadaku?

Aku pun terpaksa berhenti di lapangan itu untuk melihat secara detail. Ternyata benar. Ada seorang perempuan seumuranku yang sedang menangis di tengah-tengah lebatnya bunga berwarna merah. Untungnya dia memakai baju putih. Jadi, dia mudah ditemukan.

Aku mendekati perempuan itu. “Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengusap pipinya yang basah dengan lengan bajunya yang kotor setelah mendengar suaraku. Perempuan itu kemudian menggeleng. Aku segera mengeluarkan saputangan biruku untuk mengelap pipi merah perempuan itu.

Saat kuusap pipinya dengan saputanganku, aku melihat wajah aslinya. Dia begitu cantik. Walaupun dengan muka sesedih itu. Dia tetap cantik.

“Kamu sendirian?” tanyaku. Dia mengangguk. “Kau sedang apa sore-sore di sini?”

“Aku… kehilangan kalung dari ibuku…” Akhirnya dia membuka mulutnya.

“Kalung seperti apa?”

“Kalung berbentuk strawberry dengan ukiran Y di tengahnya… warnanya perak..”


“Oke, aku juga akan ikut mencarinya. Dimana terakhir kali kau menjatuhkannya?”

“Aku.. tidak tahu…” dia terisak lagi. “Kamu.. benar mau membantuku?”

Aku mengangguk dengan mantap dan segera mencari-cari di antara sekian banyak bunga di lapangan ini. Untung juga kalung itu berwarna perak. Jadi ya semoga saja dimudahkan dalam mencarinya.

A.. arigatou…” isaknya lagi sambil mengusap mukanya dengan saputangan biruku.

Bulan semakin memancarkan sinarnya. Langit pun sudah berselimut kegelapan. Sedangkan aku masih di sini bersama perempuan yang belum juga berhenti menangis. Aku menjatuhkan diriku yang lelah di sampingnya.

“Ah! Susah sekali mencarinya! Gimana kalau dilanjutin besok? Hari sudah gelap. Pasti ibumu sedang mengkhawatirkanmu.”

“Ah.. iya..” Dia terisak lagi. “Tapi kakiku keseleo tadi… sakit..” katanya sambil mengusap kakinya yang kotor.

Aku berfikir sebentar. Akhirnya mendapat sebuah ide. “Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Kau tidak keberatan?”

“Benarkah? Tapi… aku kan sudah banyak merepotkanmu..”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku ikhlas, kok.” Aku menyunggingkan sesimpul senyuman.

“Mmm… baiklah…”

Aku pun membantunya berjalan ke arah sepedaku. Untungnya sepedaku bisa membawa dua orang. Aku pun menanyai alamatnya, dan dia memberiku petunjuk ke rumahnya. Lumayan jauh dari lapangan itu. Tapi kenapa dia tiba-tiba bisa kehilangan sejauh itu? Ah, itu pertanyaan yang tidak penting. Akhirnya kita sampai di rumahnya.

Do.. domo arigatou…” dia menunduk dalam-dalam.

“Tidak apa. Lagipula, panggil saja aku Diego.”

“Ah.. maaf.. namaku Yuki, Kashiwagi Yuki. Yoroshiku onegaishimasu..” dia menunduk lagi. Aku pun ikutan menunduk. Akhirnya ada seorang pelayan keluar dan membukakan pintu untuk perempuan itu. Ehm, maksudku perempuan manis yang bernama Yuki itu. Dia melambai ke arahku. Aku juga melambai ke arahnya. Setelah dia masuk, aku langsung melesat dengan cepat di antara kegelapan menuju ke rumahku. Ibuku pasti juga khawatir denganku.

TBC~

an: How's it? This is an improvement for me! Teehee~ comments are allowed!

Nani? Nani? NANI???

Oh, great. I'm losing my creativeness for being an author. Sorry but maybe I just stop my fanfic "To Be Free" because i think she was true. my fanfic still lame but i have a new one! and.... it's AKB again.. *sigh*-__- IT WAS HIS REQUEST! But... because he's my bestie who always hear my problems, so I did this to him. And~ this is it! A gift for him. He had his birthday 26th June ago, but i publish the fanfic today, BUAHAHAHA. Gomen ne~ :p

Yosh! and the fanfic will be in the next post~~~

To Be Free - Part 2

Judul: To Be Free
Author:
naonaotachan

Pairing: Arashi x AKB48
Rating: mungkin kufikir PG13..
Genre: Romance



kepo sama part 2? baca di sini~Collapse )